Berbagi Ketupat di Gereja, ini yang dilakukan Formagam dan GusDurian Gresik

Panjirakyat.net Gresik – Toleransi antar umat beragama terjalin sangat baik di Kabupaten Gresik, potret itu tergambar dalam kegiatan kupatan yang diadakan oleh komunitas GusDurian Gresik dan Forum Masyarakat Gresik Cinta Keberagaman (Formagam) Gresik yang bekerjasama dengan pengelola Gereja Kristiani Jawi Wetan (GJKW) Jalan Panglima Sudirman Gresik.

Suasana hangat kebersamaan dan penuh kebahagiaan begitu terasa dalam acara yang dihadiri Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah dan sejumlah perwakilan tokoh lintas agama di Kabupaten Gresik itu. Acara juga diisi dengan membagikan ketupat kepada para peserta yang hadir.

Dari Amerika Sampai Papua, Gayeng Bareng di Open House Virtual Ganjar

Porsche jual 72 ribu mobil kuartal pertama 2021

Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah dalam sambutannya memberikan apresiasi kegiatan dalam rangka menyemarakkan hari raya Idul Fitri 1442 Hijriyah tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi wujud toleransi dan kerukunan umat beragama di Kabupaten Gresik.

“Saya sangat apresiasi terhadap kegiatan ini, karena kegiatan lebaran ketupat di gereja ini menjadi bentuk toleransi dan kerukunan umat lintas agama di Kabupaten Gresik,” ujar Wabup Bu Min.

Wakil Bupati perempuan pertama di Gresik ini berharap, jalinan silaturrahim antar umat beragama di Kabupaten Gresik terus-menerus dijalin, sehingga kerukunan dan persaudaraan semakin kuat. Dengan begitu, diharapkan bisa mewujudkan kebersamaan menuju Gresik baru yang lebih baik.

“Ini yang kesekian kalinya saya bertemu dalam acara kebersamaan bersama tokoh lintas agama, mudah-mudahan jalinan silaturrahim terus menerus dirajut, sehingga bisa bersama-sama membawa Gresik lebih baik,” paparnya.


Koordinator GusDurian Gresik, Khoirul Anwar menuturkan, kegiatan ini menjadi bentuk toleransi dan ruang sinergi umat lintas agama di Gresik untuk terus merawat keberagaman bangsa.

“Segala perbedaan berbagai suku ras dan golongan harus saling bersaudara dan saling menyayangi, dan ini terbukti terjalin baik di Kabupaten Gresik,” kata Gus Irul sapaan akrab Khoirul Anwar.

Gus Irul menyebutkan, tradisi kupatan di hari raya Idul Fitri sudah ratusan tahun dilakukan oleh umat islam. Makanan khas yang disajikan yakni ketupat memiliki makna tersediri.

“Kupat artinya simbol tradisi orang jawa, artinya ketupat adalah ngaku lepat (mengakui kesalahan) untuk saling memaafkan, kemudian ketupat mempunyai makna laku papat, Lebaran (berakhir), Leburan (melimpah ruah), Leburan (melebur dosa-dosa), Laburan (bersih hati dan fikiran) dan menjaga kesucian,” terangnya, Rabu (19/5/2021).

Sementara itu, Ketua Formagam Gresik Djoko Pratomo memaparkan, nuansa kegiatan ini menghadirkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Gus Dur. Sebab, cerminan toleransi dan kasih sayang sesama umat beragama terpancar dalam forum ini.

“Kami tidak pernah merasa tidak pernah berbeda, karena kami bersaudara dan selama ini kerukunan umat beragama di Gresik terjalin dengan baik, dan kami merasa bersama-sama, hal itu dibuktikan dengan selama 5 tahun kami berdiri bisa mengadakan kegiatan dimanapun,” ucap Djoko. (Pr/dia)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*